Infotainmen, Wartawan atau Ghibah?

Infotainmen bersikeras sejajar profesi wartawan, meskipun beritanya kerap menayangkan hal negatif. Tentang itu, PPP menganggapnya sebagai perbuatan ghibah. "Kita akan mengukuhkan infotainmen sebagai karya jurnalistik. Saya berharap jika sudah masuk PWI agar jadi lebih profesional. Ini jadi momentum yang baik untuk meningkatkan profesional," jelas Ketua PWI Margiono, saat ditemui di Gedung Dewan Pers, Kebon Sirih, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (12/1).


Infotainmen intinya harus profesional, sehingga masyarakat tahu batasan berekspresi. Alasannya, kebebasan itu tidak boleh melukai orang lain. Andai itu terwujud, tak ada lagi pembedaan infotainmen dengan wartawan.
"Kerja infotainmen itu sama dengan wartawan yang lainnya. Ada yang menonton juga. Ada yang suka juga. Cara kerja mereka juga rutin kok tiap hari menjalankan tugas dan fungsi jurnalistiknya," terang Ilham Bintang yang punya andil atas berdirinya infotainmen di Indonesia.

Penegasan Ilham tak lain karena ingin mengangkat martabat infotainmen. Meskipun selama ini PWI juga telah mengingatkan bahwa infotainmen itu wartawan. "Dari empat lembaga pets hanya PWI yang menghargai dan mengakui infotainmen itu adalah wartawan. Dalam acara konselerasi internal, legalitas formal infotainmen ya sebagai wartawan," paparnya.

Tarman Azzan sebagai Dewan Kehormatan PWI menambahkan, "Saya merasa prihatin saat terjadi politik infotainmen. Apalagi infotainmen bukan disebut wartawan. Situasi ini harus dijadikan pelajaran. Makanya dalam hal ini teman-teman infotainmen harus kompak. Ini momentum yang baik. Karena ini adalah realitas. Karena itu kita mengakui keberadaannya."

Tarman pun membela infotainmen. Banyak kritikan infotainmen tidak dijadikan acuan kalau sepenuhnya salah infotainmen. "Memang banyak yang kritik infotainmen bukan wartawan. Kita bisa katakan itu tidak benar. Kita sedih karena kasus Luna Maya itu diobok-obok sama orang luar. Malah ada yang mempolitisir," tuturnya.

Tarman menambahkan, "Organisasi luar yang pengen cari popularitas. Ini tidak boleh kita biarkan. Tidak boleh itu semua terjadi. Karena kita harus memberikan kesempatan untk orang lain mengatur dirinya sendiri."

Apapun pembelaan infotainmen, Partai PPP sebagai pihak netral berusaha menyampaikan apirasinya tentang keberadaan infotainmen. Hal tersebut disampaikan langsung oleh Ketua Umum PPP, Suryadharma Ali.
"Yang ghibah adalah yang menjelekkan orang lain, yang menyiarkan kejelekkan orang lain dan dalam kehidupan memang ada publikasi terbatas. Apalagi dalam bentuk media yang jangkauannya lebih luas lagi," ungkapnya di kantor PPP, Jalan Diponegoro, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (12/1) petang.

Surya pun mengimbau agar ada pertanggungjawaban bersama antara pengusaha media dan pemerintah terhadap apakah yang diberitakannya ghibah atau tidak. Menurutnya, jangan sampai kekuatan media yang luar biasa dijadikan alat yang tidak berguna.
"Kami kapasitasnya hanya mengimbau. Prinsipnya harus terjadi kerjasama dan kesepakatan antara perusahaan media dan pemerintah untuk sama-sama menjaga moral bangsa demi kebaikan negeri ini. Gampangnya seperti ini, Anda kan wartawan dibuntuti kehidupan pribadinya terus dikorek sampai anak ditanya serta diinterogasi orangtua kamu. Berantem yah dan itu bagaimana? Enak atau tidak?" terangnya.

Ratih Sanggarwati sependapat dengan Suryadharma. Ia mengatakan, "Menurut saya kalau bisa jangan melulu blow-up aib seseorang sampai kemana-mana. Kan ada berita lain yang bagus. Kalau terbiasa menayangkan hal yang positif, nanti penonton akan terbiasa."
Infotainmen seharusnya harus pintar menayangkan artis yang menyimpan banyak kebohongan publik. Menurut Ratih, Itu memang menjadi tugas infotainmen.
"Apapun itu, seharusnya para publik figur atau nara sumber, juga harus bisa jaga ucapan ataupun yang ingin dia sampaikan. Jangan juga berusaha ditutupi tapi justru harus siap memberikan pendidikan dan komunikasi yang baik," ungkapnya.

Okky Asokawati pun demikian halnya. Ia bertutur, "Saya mencoba melihat dari semua sudut, sudut artis dan pemirsanya. Saya tidak memungkiri kalau ibu-ibu dan anak perempuan suka infotainmen, tapi tidak dipungkiri capek juga melihat beritanya."
Okky pun mengimbau agar infotainmen menampilkan berita berimbang. Ada positif dan negatif, serta informasinya harus mendidik dan menghibur.
"Saya rasa semua orang punya hak untuk berekspresi tapi menurut saya kalau privasinya mau dijaga kita harus menghormatinya. Apalagi wisata bersama artis karena untuk memajukan pemerintah dan membantu pemerintha guna memajukan wisata-wisata di Indonesia," harapnya.

Okky menambahkan, "Syukur-syukur besok-besok setelah pernyataan ini ada berita yang positif."
Pernyataan Okky menyangkut infotainmen yang kerap memberitakan aib artis tanpa ada batasan. Terakhir kasus yang terjadi, antara Luna Maya dan Infotainmen pada pertengahan Desember 2009.