Lahir di Internet, Populer di Dunia Nyata

Aksi lip-synch duo Keong Racun 'Sinta dan Jojo' ternyata mampu menyedot perhatian publik. Pencipta dan penyanyi asli Keong Racun tersebut telah terekspos di media.
Hingga saat ini video Keong Racun di Youtube sudah ditonton lebih dari 2 juta orang, suatu angka yang fantastis untuk sebuah video klip yang menggunakan aksi lip-synch.
Jumlah ini diperkirakan masih akan terus bertambah seiring dengan masuknya duo amatiran itu ke media utama yang mulai mempromosikan keduanya.
Itulah gambaran masyarakat, mereka yang memilih, mereka yang menentukan. Bila rasa kebosanan akan perilaku-perilaku artis Tanah Air yang sudah menyimpang datang, maka perilaku dan tingkah lucu, dua gadis belia 'Keong Racun' tersebut, mampu menjadi alternatif hiburan bagi masyarakat.
Dengan kata lain, masyarakat sebenarnya membutuhkan hiburan yang positif, seksi namun bukan mesum, Menggoda tapi bukan membuat nafsu. Serta teknologi internet, yang diharapkan dapat memberikan dampak yang positif bagi mereka, masyarakat dan semuanya.
Meskipun hanya lipsynch, aksi Jojo dan Sinta pada situs Youtube merupakan fenomena yang sangat menarik. Yakni fenomena dimana konvergensi TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) dan jejaring sosial begitu mudahnya membangkitkan kreativitas otak kanan menjadi produk seni tanpa batas.
Sarana yang sangat potensial untuk meraih popularitas yang pada gilirannya nanti akan mendatangkan keuntungan finansial yang sangat berarti.
Konvergensi TIK memudahkan siapapun untuk mengunggah konten atau materi karya pribadi yang berupa lagu, dongeng, laporan berita, opini, musik, video, foto, perangkat lunak, hingga merancang ensiklopedia.
Aksi Sinta dan Jojo yang telah diakses jutaan orang merupakan indikasi tumbuhnya generasi unggah (uploading) di dunia maya. Usaha untuk mengunggah hasil kreativitas harus ditumbuhkan di negeri ini.
Pada akhirnya nanti, pertumbuhan ekonomi dunia akan ditopang oleh peran penting dari penemuan-penemuan baru di bidang TIK serta fenomena makin strategisnya internet sebagai media komunikasi global dan stimulus industri kreatif.
Pelajaran yang bisa dipetik dari fenomena Keong Racun ini adalah betapa pentingnya menumbuhkan budaya unggah. Pemerintah seharusnya bersungguh-sungguh memfasilitasi masyarakat untuk mengunggah karyanya di bidang seni, budaya, ilmu pengetahuan dan teknologi.
Perkembangan konvergensi TIK dan jejaring sosial sangat memudahkan seseorang untuk menerjuni industri kreatif. Orang awam saja bisa menjadi pencipta lagu secara instan lalu diunggah ke dunia maya agar tersebar tanpa batas.
Ironisnya banyak seniman lokal di negeri ini yang belum mentransformasikan cara kerja dan kompetensinya dengan kemajuan TIK. Betapa pentingnya transformasi profesi seni. Karena tren dunia menunjukkan bahwa profesi seni semakin cerah dan bisa menghasilkan devisa yang sangat besar.
"Bantuan media mainstream seperti media nasional, cetak, radio, online, hingga televisi dapat mengangkat sebuah tema hangat di dunia maya yang kemudian menjadi perbincangan besar di dunia nyata," jelas pakar blogger Enda Nasution.
Video Sinta dan Jojo adalah paradoks dunia digital saat ini. Tidak perlu tampil beraksi di atas panggung musik tapi langsung menjadi terkenal. Hanya dengan bermodalkan laptop dengan kamera build-in, lalu rekam, mainkan lagu yang sudah terkenal, bergaya-gaya dan berikan sentuhan yang unik, kemudian unggah ke situs YouTube.
Kirimkan beberapa link ke teman-teman melalui Facebook, Twitter dan media sosial lainnya, dengan sedikit keberuntungan dan strategi yang tepat munculah kreasi kita. Kemudian ditambah dengan media yang memblow-upnya seperti yang terjadi dengan video 'Keong Racun' ala Sinta dan Jojo ini.
Ada beberapa kasus yang ramai diperbincangkan di dunia nyata yang berangkat dari isu di internet. Isu itu dia ntaranya kasus Prita Mulyasari, video porno Ariel 'Peterpan' dan yang terakhir adalah video fenomenal 'Keong Racun' dari Sinta dan Jojo.